Sejarah Desa Watutulis
Perjalanan panjang Desa Watutulis yang terdokumentasikan dalam beberapa periode penting.
Sejarah Candi Sentono Watutulis
Sekilas Sejarah Candi Sentono di Dsn. Sekelor, Desa Watutulis.
Candi atau Petilasan Watu Tulis merupakan salah satu situs peninggalan sejarah yang berada di Desa Watutulis, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Penamaan situs ini merujuk pada nama desa tempat situs tersebut berada. Berdasarkan berbagai sumber serta keterangan juru kunci setempat, situs Watu Tulis diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kahuripan, sebuah kerajaan bercorak Hindu–Buddha yang didirikan oleh Prabu Airlangga pada abad ke-11. Penggunaan batu andesit sebagai material bangunan menunjukkan bahwa situs ini berasal dari masa sebelum Kerajaan Majapahit, yang umumnya menggunakan batu bata merah sebagai ciri khas arsitektur.
Pada masa awal ditemukannya, Candi Watu Tulis merupakan bangunan candi utuh yang menghadap ke arah timur, dengan perkiraan tinggi dan lebar sekitar 3 meter. Namun pada tahun 1998 terjadi pembongkaran oleh pihak tertentu yang meyakini adanya harta karun di dalam candi. Setelah pembongkaran tersebut dan tidak ditemukannya apa pun, struktur candi tidak dikembalikan seperti bentuk aslinya. Batu-batu candi hanya ditumpuk tanpa susunan arsitektur yang tepat sehingga bentuk asli candi hilang dan kondisi situs menjadi memprihatinkan hingga saat ini.
Di lokasi bekas bangunan candi kemudian didirikan dua makam yang oleh sebagian pihak disebut sebagai makam Syeikh Subachir dari Persia. Namun berdasarkan penuturan juru kunci, makam tersebut sebenarnya kosong dan tidak memiliki kaitan sejarah dengan tokoh yang dimaksud. Situs ini lebih tepat disebut sebagai petilasan Mbah Joyo, tokoh yang dipercaya sebagai pembabat alas Desa Watutulis.
Selain tumpukan batu andesit yang merupakan sisa struktur candi, situs Watu Tulis juga memiliki dua sendang atau kolam air yang dikenal sebagai Sentono (sendang laki-laki) dan Sentini (sendang perempuan). Air dari kedua sendang ini oleh sebagian masyarakat dipercaya memiliki khasiat untuk pengobatan. Di area petilasan terdapat pula perlengkapan ritual seperti tempat bunga, dupa, serta payung kuning yang biasa digunakan dalam kegiatan keagamaan dan tradisi lokal.
Hingga kini, situs Watu Tulis masih dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan ritual dan tradisi masyarakat Jawa, seperti ruwatan desa, sedekah bumi, tingkepan, slametan sebelum hajatan, serta pengiriman doa pada bulan Ruwah. Selain masyarakat lokal, paguyuban dari Bali juga secara rutin mengunjungi situs ini setiap Sabtu malam untuk melaksanakan ritual keagamaan. Tak hanya itu, pelajar dan mahasiswa kerap melakukan kunjungan penelitian untuk mempelajari sejarah serta peninggalan budaya yang terdapat di situs tersebut.
Sayangnya, hingga saat ini upaya pelestarian terhadap Candi/Petilasan Watu Tulis belum berjalan maksimal. Bongkahan batu candi yang jumlahnya mencapai ratusan hingga ribuan masih belum tersusun dan belum direkonstruksi. Keberadaan makam buatan serta hilangnya struktur asli candi menunjukkan perlunya tindak lanjut yang lebih serius agar situs bersejarah ini tidak semakin rusak.
Dengan nilai sejarah yang dimilikinya, Candi Watu Tulis memiliki potensi besar sebagai sarana edukasi yang dapat memperkenalkan peradaban Jawa kuno kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Melalui pemanfaatan yang tepat, situs ini dapat menjadi media pembelajaran sejarah yang informatif dan bermanfaat.
Cerita mengenai Candi atau Petilasan Watu Tulis ini dimuat dan dirangkum dari beberapa sumber terpercaya untuk memperkaya informasi sejarah yang disajikan. Sumber-sumber tersebut meliputi artikel dari Scribd.com(SMANISDA), id.wikipedia.org, sidita.disbudpar.jatimprov.go.id, serta www.literasisidoarjo.com yang masing-masing memberikan data mengenai sejarah, kondisi, dan tradisi yang berkaitan dengan situs Watu Tulis.
Sejarah Pura Nirwana Jati
Sekilas Sejarah Pura Nirwana Jati di Dsn. Sekelor, Desa Watutulis
Pura Nirwana Jati merupakan tempat ibadah umat Hindu yang terletak di Dusun Sekelor, Desa Watutulis, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo. Pura ini berdiri berkat semangat kebersamaan umat Hindu setempat, khususnya melalui peran penting Almarhum Romo atau Mangku Sampan, tokoh yang menjadi pelopor pendiriannya. Sebelum adanya pura, kegiatan persembahyangan dilakukan di rumah-rumah warga, sehingga muncul tekad untuk mendirikan tempat ibadah permanen yang layak dan dapat digunakan bersama.
Proses pembangunan Pura Nirwana Jati berlangsung secara swadaya melalui gotong royong masyarakat Hindu dari sekitar Sekelor. Dengan segala keterbatasan, umat terus melakukan penggalangan dana, pencarian lokasi, hingga pembangunan fisik pura. Upaya ini akhirnya membuahkan hasil dan pura berhasil berdiri serta difungsikan sepenuhnya sekitar tahun 2011, setelah melalui proses yang cukup panjang sejak awal berkembangnya komunitas Hindu di wilayah tersebut pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.
Saat ini, Pura Nirwana Jati menjadi pusat kegiatan spiritual bagi sekitar 16–18 kepala keluarga umat Hindu etnis Jawa. Selain fungsi keagamaan, pura juga menjadi sarana pelestarian budaya dan tradisi Hindu di Sidoarjo. Kegiatan yang dilakukan meliputi persembahyangan rutin, upacara hari raya, penyucian tahunan, serta kegiatan sosial seperti pembagian sembako kepada masyarakat yang membutuhkan. Pura ini terbuka untuk dikunjungi oleh siapa pun, namun tetap menerapkan ketentuan adat, seperti larangan memasuki area suci bagi perempuan yang sedang menstruasi serta larangan merekam video di area dalam pura.
Dengan nilai spiritual dan budaya yang dijunjung tinggi, Pura Nirwana Jati menjadi simbol kerukunan, toleransi, dan keberagaman masyarakat di Desa Watutulis serta menjadi bukti nyata peran gotong royong dalam menjaga warisan keagamaan.